-->

Bahasa

Post a Comment

Ketika pembahasan di FLP tentang puisi, ditampilkan sebuah puisi yang dari segi bahasa sebenarnya adalah prosa, judulnya adalah “Nah”.

Kata “Nah” mengingatkanku pada satu masa ketika aku berada di pesantren dulu, yaitu Pondok Pesantren Darul Hijrah Puteri (PDHPi) di Batung, Cindai Alus, Martapura Kalsel. Waktu itu aku sedang mencari sendalku yang nyempil entah kemana. Begitu ketemu, aku berkata, “Nah, hadza na'li.” Dan sore harinya aku langsung masuk mahkamah bahasa karena menggunakan embel-embel “nah”.

Ya, begitulah keadaan pondok pesantrenku yang meletakkan bahasa sebagai mahkota pondok. “Allughatu tajul ma'hadi”. Kata bagian bahasa, “Language is not everything, but everything without language is nothing.” Kalau dipikir-pikir, benar juga.

Salah satu alasan yang menyebabkan akau mau dimasukkan ke dalam pondok pesantren adalah karena bahasanya. Dulu aku bermimpi bisa menguasai empat bahasa, yaitu bahasa Banjar, Indonesia, Arab ,dan Inggris. Sekarang walaupun keempatnya belum kukuasai sepenuhnya, aku ingin menguasai bahasa lebih banyak lagi.

Aku sempat berpikir untuk masuk UKM Flat, tapi padatnya jadwal kuliah membuatku berpikir dua kali. Walaupun sekarang aku jarang mendalami bahasa, aku selalu mengakui bahwa bahasa itu penting. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Man arafa lughata qaumin, salima min …”. Maaf ya, lupa sambungannya. Intinya barang siapa mengerti bahasa suatu kaum, maka ia akan selamat dari tipu daya mereka.

Related Posts

Post a Comment