-->

Wanita dan Pemutih Wajah

Post a Comment

 Saat bertemu salah seorang rekan, dia berkomentar pada saya, "Kamu tambah putih deh." 

"Ah, masa sih," kata saya tidak percaya. Kulit saya memang cenderung sawo matang. Kalo ada yang bilang putih, saya merasa seperti sedang diolok-olok, minimal bercanda doang.

Tapi ketika di kesempatan lain ada yang berkomentar sama, saya mulai berpikir, masa iya?

Setiap hari, saya selalu melihat wajah saya di cermin. Tentu saya tidak merasakan adanya perbedaan yang mencolok. Tapi jika melihat cream wajah yang saya gunakan, ada kata lightening disana.

Menonton iklan pemutih di televisi adalah hal yang lumrah. Wanita yang berkulit putih dan mulus tampak levih cantik dan mempesona. Tidak dipungkiri memang sedap dipandang mata.

Meski begitu bukan berarti sudut pandang masyarakat menjadi satu. Selalu ada kontroversi terhadap produk pemutih kulit atau wajah.

Indonesia adalah negara yang kaya akan suku bangsa. Kulit asli penduduk Indonesia cenderung sawo matang. Meski begitu beberapa suku memang memiliki warna kulit yang lebih cerah. Sedangkan beberapa suku lain memiliki warna kulit yang lebih gelap. Kita terbiasa untuk menghargai peebedaan.

Cantik bukan berarti putih. Banyak wanita berwajah cantik dengan warna kulit sawo matang atau lebih gelap. Karena kecantikan tidak hanya berdasar pada warna kulit. Bentuk wajah, ekspresi, dan sikap memberi kontribusi untuk kecantikan seseorang.

Tentu saja hal ini tidak menghalangi para pengiklan produk pemutih dan kecantikan untuk mempromosikan produknya. Iklan yang dilihat terus-menerus sedikit banyak akan mempengaruhi sudut pandang seseorang.

Setiap wanita pasti ingin tampil cantik. Baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri. Beberapa diantaranya memasukkan kulit putih sebagai kriteria kecantikan. Maka jika ada cara untuk membuat kulit menjadi lebih putih, kenapa tidak.

Memakai pemutih beda dengan operasi plastik. Tak ada usaha untuk merubah bentuk wajah. Hanya menjadikan warna kulit dan wajah menjadi lebih cerah. Tidak ada yang salah dengan hal ini.

Ada banyak produk kecantikan yang bisa membuat warna kulit menjadi lebih cerah, sebutan yang lebih halus dari pada pemutih. Produk ini laris mani di pasaran.

Golongan wanita lain hanya sebagai pengamat. Mereka suka melihat wanita lain menjadi lebih cerah dengan kosmetik. Namun diri mereka sendiri enggan menggunakannya. Alasan utamanya tentu karena mereka merasa bahwa mereka tidak perlu pemutih untuk bisa tampil cantik dan percaya diri.

Golongan wanita ketiga adalah mereka yang tidak memakai produk pemutih dan memandang para pemakainya sebagi orang yang berlebihan. Wanita yang menggunakan pemutih dianggap tidak menghargai warna kulitnya sendiri yang sebenarnya sudah bagus. Bagi mereka produk pemutih adalah penghinaan terhadap wanita berkulit gelap.

Di kalangan para pemakai produk pemutih wajah pun sebenarnya ada beragam alasan penggunaan produk. Alasan utamanya tentu untuk mencerahkan warna kulit. Beberapa yang lain, mungkin sekedar perawatan kulit saja, tanpa ada niat utama sebagai pemutih.

Saya pribadi, ketika pertama kali menggunakan cream siang dan malam dari Wardah, tidak ada niatan untuk memutihkan wajah sama sekali. Waktu itu, sekedar perawatan kulit saja dan cocok. Bahkan jerawat di wajah saya mulai hilang. Itulah alasan saya bertahan menggunakannya hingga sekarang.

Rupanya karena digunakan sudah lebih dari dua tahun, efek lightening nya mulai nampak. Sehingga ada teman saya yang mengatakan bahwa saya tambah putih.

Awalnya, saya termasuk penonton yang suka melihat wanita lain menggunakan produk pencerah kulit. Kali ini saya menjadi salah satu pengguna.

Karena hal itu saya pun menjadi lebih terbuka terhadap wanita yang menggunakan produk pemutih. Saya tidak menyatakan bahwa kulit cerah itu mutlak lebih cantik dari pada kulit gelap. Tapi setiap orang punya preferensi masing-masing.

Daripada mendebat orang lain yang menggunakan pemutih. Bukankah lebih baik mensyukuri apa yang dimiliki diri sendiri. Salah satu bentuk syukur adalah merawat apa yang kita miliki dan bukan sekedar membiarkannya.

Related Posts

Post a Comment