-->

Amlodipine dan Candesartan

2 comments
Mama sudah lama mengidap darah tinggi atau hipertensi. Semenjak saya masih kecil mama sudah rajin meminum berbagai macam herbal untuk mengendalikan darah tinggi nya tersebut. Mama minum air daun pucuk luntas minum air ketumbar dan lainnya. Mama juga menghindari berbagai makanan yang bisa memicu darah tinggi seperti halnya daging, makanan asin, bahkan berhati-hati makan telur. Namun sampai saya dewasa mama masih mengidap darah tinggi.

Selain minuman tradisional mama juga kadang cek up ke puskesmas. Di puskesmas diberi obat Captopril. Tapi sepertinya dosis nya masih tidak mempan untuk mama. Tekanan darahnya masih tinggi.

Di rumah, ada alat tensimeter untuk mengukur tekanan darah. Tekanan darah mama bisa mencapai 180/90 kadang bahkan nyampe 200/100. Sebenarnya ini sangat tinggi, tapi saya juga ngga bisa berbuat apa-apa. Diminta minum obat, toh mama rajin minum obat. Diminta tidak makan pantangan, toh mama sangat menjaga pola makannya. 

Saya cuma bisa berdoa saja. Saya juga ngga ngerti mesti minum obat apa supaya tekanan darah mama turun. Yang saya pahami tekanan darah tinggi disebabkan berbagai faktor. Obatnya pun bermacam-macam, bisa berbeda bagi tiap-tiap orang. Kalo sembarang minum obat, malah bisa berdampak buruk.

Sampai beberapa bulan yang lalu mama sakit diare. Dalam sehari belasan kali. Karena tiga hari tak kunjung sembuh meski minum obat warung, akhirnya kami putuskan untuk ke rumah sakit. Musim corona, banyak orang takut ke rumah sakit, tapi kami tetap berangkat.

Ketika diperiksa oleh dokter jaga IGD, selain diare, tekanan darah mama 190/90. Saya sih biasa aja, memang biasanya begitu. Tapi bagi dokter yang memeriksa, tentu saja ini terlalu tinggi. Akhirnya mama dirawat inap.

Selama di rumah sakit setiap hari mama diberi obat. Saya perhatikan, secara umum ada dua macam obat yaitu untuk mengobati diare dan menurunkan darah tinggi. 

Setelah diare mama sembuh, mama sudah bisa pulang. Tidak lupa disuruh menebus obat dan kontrol pada waktu yang telah ditentukan. Saya pun membaca dengan seksama daftar obat yang ada di nota pembelian.

Setelah kontrol berikutnya, dokter tidak memberikan resep obat lain. Hanya obat darah tinggi yang sama dengan yang sebelumnya mama minum ketika dirawat.

Semenjak minum obat ini tekanan darah mama sekarang stabil di 130/80. Mama pun bisa makan dengan lebih tenang walau tetap menghindari daging. Tidur juga lebih nyaman.

Jadi apa obat hipertensi yang mama konsumsi saat ini?

Ada dua jenis obat, yaitu Amlodipine 10 mg dan Candesartan 16 mg. Satu obat diminum siang dan satunya di malam hari.

Sudah beberapa bulan mama mengkonsumsi kedua obat ini, dan tekanan darah mama sudah tidak pernah tinggi seperti dulu lagi. Bagi orang normal, 130 memang termasuk tinggi, tapi bagi pengidap hipertensi 130 itu termasuk normal.

Sampai kapan minum obat?

Ini adalah pertanyaan yang sulit saya jawab. Salah seorang dokter jantung yang pernah saya temui mengatakan  bahwa pengidap hipertensi memang harus selalu rutin meminum obat. Oleh karenanya banyak pasien BPJS yang datang kontrol ke rumah sakit hanya untuk memperoleh obat hipertensi. Bagi yang sudah kronis biasanya memang meminum obat lebih dari satu macam.

Meski mama juga terdaftar di BPJS, kami ngga mau ribet. Kasihan kalau beliau harus ke rumah sakit tiap bulan hanya untuk mendapatkan obat. Karenanya saya memilih untuk membelikannya saja di apotek. Toh obatnya sama saja, hanya saja harus membayar.

Diantara obat tersebut Candesartan memang harganya jauh lebih mahal daripada Amlodipine atau Captopril. Tapi demi kesehatan mama, saya tidak ragu untuk membayar.

Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa minum obat terus menerus tidak baik untuk hati dan ginjal. Tentu segala sesuatu memang ada efek sampingnya. Tapi saya lebih takut membiarkan mama dengan darah tinggi yang diidapnya tanpa penanganan sedikitpun.

Kesehatan adalah kekuasaan Allah. Minum obat hanyalah bagian dari usaha. Pastinya, ketika tekanan darah mama turun, pikiran mama menjadi lebih tenteram. Bagi saya itulah yang lebih utama. 

Related Posts

2 comments

Post a Comment